Puncak Songolikur Gunung Muria
Gunung Muria adalah sebuah gunung di wilayah utara Jawa
Tengah bagian timur, yang termasuk ke dalam wilayahKabupaten Kudus di sisi
selatan, di sisi barat laut berbatasan dengan Kabupaten Jepara, dan di sisi
timur berbatasan dengan Kabupaten Pati. Di kawasan ini terdapat tempat yang
sangat legendaris peninggalan Wali Songo, yaitu pesanggrahan di kawasan puncak
Gunung Muria yang dalam sejarah negeri ini merupakan basis pesanggrahan di
manaKanjeng Sunan Muria menyebarkan agamaIslam di tanah Jawa. Di sini pulalah
Sunan Muria dimakamkan. Nama Gunung Muria dan daerah Kudus dinamakan
berdasarkan nama Bukit Moria dan kota Al-Qudus/Baitul Maqdis/Yerusalem.
Demikian pula nama Masjid Al Aqsa Menara Kudus berdasarkan nama Masjid di Yerusalem..
Puncak Muria
Gunung Muria mempunyai ketinggian1.601 meter dari permukaan
laut. Puncak-puncaknya yang tertinggi antara lain:
Puncak Songolikur; merupakan puncak tertinggi di Gunung
Muria. Sering juga disebut sebagai puncak Saptorenggo.
Puncak Candi Angin; tapi sampai saat ini belum ada yang tau
berapa ketinggian puncak Candi Angin
Puncak Argowiloso; tapi sampai saat ini belum ada yang tau
berapa ketinggian puncak Argowiloso.
Puncak Argojembangan
Puncak Abiyoso
Puncak Saptorenggo atau disebut juga Puncak Songolikur
adalah puncak tertinggi di Gunung Muria Jawa Tengah dengan ketinggian 1602
meter dpl. Puncak ini termasuk dalam wilayah administratif desa Rahtawu, Gebog
Kabupaten Kudus Jawa Tengah.
Selain menjadi puncak yang menarik perhatian setiap Pecinta
Alam untuk mendakinya, juga menjadi tempat tujuan bagi para pencari berkah dan
pelaku spiritual utamanya pada setiap bulan sura atau bulan muharam.
Dahulu kala Konon katanya di Puncak Rahtawu – yaitu Puncak
Songolikur ( Puncak 29 ) adalah pusat pertapaan para dewa yang selalu
memberikan kedamaian dan rahmat di Bumi.
Wisata pegunungan Rahtawu merupakan suatu tempat yang
terletak di kaki Gunung Muria sekitar 20 km dari Kota Kudus yang terletak di
desa Rahtawu Kecamatan Gebog. Rahtawu ini memiliki pemandangan yang indah
karena letaknya yang dikelilingi deretan pegunungan dan sungai-sungai yang
masih jernih. Mata air sungai Kali Gelis berasal dari Rahtawu ini. Kawasan ini
sangat cocok bagi para pelajar, remaja serta muda-mudi yang berhobi mendaki
gunung dapat menyusuri jalan setapak menjelajahi medan pegunungan Rahtawu untuk
menaklukkan Puncak “SONGOLIKUR”.
Selain memiliki wisata alam, Rahtawu mempunyai wisata budaya
karena di rahtawu ini terdapat tempat-tempat pertapaan / petilasan dimana nama
petilasan tersebut diambil dari beberapa cerita pewayangan, yaitu: Hyang Semar,
Petilasan Abiyoso, Begawan Sakri, Lokojoyo, Dewi Kunthi, Makam Mbah Bunton,
Hyang Pandan, Argojambangan, Jonggring Saloko dan Sendang Bunton
Rahtawu yang berhawa dingin dan jauh dari keramaian
merupakan daya tarik bagi yang suka laku prihatin.
Kata orang desa rahtawu nama Rahtawu mempunyai arti getih
yang bercecer (bahasa jawa) kalo indonesianya (darah yang bercecer )
Tabu/Pantangan tertentu. Di Rahtawu juga ada pantangan,
yakni warga dilarang nanggap wayang kulit. Meski di sana banyak nama petilasan
bernama leluhur Pandawa.
“Bila dilanggar, yang bersangkutan terkena bencana,”
Jadi kalau ada warga punya hajat, paling nanggap tayub, (
Jogetan tradisional di daerah pantura Jawa tenggah)
Prosesi ritual itu dikatakan sebagai tradisi warga Rahtawu
yang berjalan turun-temurun. “Maksudnya untuk memanjatkan doa kepada Tuhan dan
minta keselamatan agar hasil bumi lebih banyak dari tahun lalu.
Rahtawu memang menyimpan banyak misteri. Dan seharusnya,
baik ilmuwan Islam maupun juru dakwah tertarik dan mencari tahu bagaimana
praktik Islam di sana. Apalagi, dinamika kehidupan warga di Rahtawu yang juga
masih tradisional
MITOS, Wukir Rahtawu merupakan tempat pertapaan Resi
Manumayasa sampai kepada Begawan Abiyasa yang merupakan leluhur Pandawa dan
Korawa.
Menurut cerita babad dan Purwa, konon leluhur raja-raja Jawa
merupakan keturunan dinasti Bharata.
Di Rahtawu terdapat banyak “petilasan pertapaan” yang
diyakini dahulu kala memang benar-benar merupakan tempat bertapanya “para suci”
yang oleh penduduk setempat disebut “Eyang”.
Diantaranya :
Eyang Sakri (Bathara Sakri), di Desa Rahtawu.
Eyang Pikulun Narada dan Bathara Guru, di Joggring Saloka,
dukuh Semliro, desa Rahtawu.
Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara, di puncak gunung
“Abiyasa”, ada yang menyebut “Sapta Arga”.
Eyang Manik Manumayasa, Eyang Puntadewa, Eyang Nakula Sadewa
di lereng gunung “Sangalikur”,
di puncaknya tempat pertapaan Eyang Sang Hyang Wenang
(Wening) dan sedikit ke bawah pertapaan Eyang Ismaya.
Eyang Sakutrem (Satrukem) di sendang di kaki gunung
“Sangalikur” sebelah timur.
Eyang Lokajaya (Guru Spirituil Kejawen Sunan Kalijaga,
menurut dongeng Lokajaya nama samaran Sunan Kalijaga sebelum bertaubat), di
Rahtawu.
Eyang Mada (Gajah Mada) dan Eyang (Romo) Suprapto, berupa
makam di dusun Semliro.
Semua “petilasan” (kecuali makam Eyang Mada) merupakan “batu
datar” yang diperkirakan sebagai tempat duduk ketika bertapa (meditasi,
semadi). Sayangnya, semua petilasan tersebut telah dibuatkan bangunan dan
dibuat sedemikian rupa “sakral” dengan diberi bilik yang tertutup dan dikunci.
Pembukaan tutup dilakukan setiap bulan Suro (Muharam)
tanggal 1 s/d 10.
Di setiap petilasan dibuatkan suatu bilik khusus untuk
melakukan “ritual sesaji” dengan bunga dan pembakaran dupa. Juga disediakan
suatu ruangan cukup luas untuk para pengunjung beristirahat dan menunggu
giliran untuk melakukan “ritual sesaji” maupun “ngalap berkah”
Di Rahtawu pengaruh peradaban Hindu, Buddha dan Islam tidak
nampak jelas. Tidak ada jejak berupa bangunan peribadatan (candi) Hindu dan
Buddha. Bahkan tidak ada arca maupun ornamen bangunan yang terbuat dari batu
berukir sebagaimana ditemukan di Dieng, Trowulan, Lawu, dan tempat-tempat
lainnya di Jawa.
Bangunan peribadatan berupa masjid ataupun langgar
(mushalla) merupakan bangunan baru buatan jaman ini. Maka sesungguhnya
mengundang suatu pemikiran, situs peradaban apakah di Rahtawu tersebut ?
ini berkaitan dengan ajaran budhi (Sabdo Palon) ajaran
tentang kautaman urip.
Meskipun semua “petilasan pertapaan” berkaitan dengan
nama-nama tokoh pewayangan (Mahabharata-Hindu), namun di Rahtawu ditabukan
untuk mengadakan pagelaran wayang. Konon cerita para penduduk setempat, pernah
ada yang melanggar larangan tersebut, maka datang bencana angin ribut yang
menghancurkan rumah dan dukuh yang mengadakan pagelaran wayang tersebut.
ketegaran Jawa dalam berinteraksi dengan berbagai peradaban
pendatang di Rahtawu, sebagai berikut :
Di puncak tertinggi (gunung “Sangalikur”) adalah “petilasan
pertapaan Sang Hyang Wenang”. Tempatnya sepi kering tidak ada apa-apa alias
suwung (tan kena kinayangapa).
Dibawahnya ada “petilasan pertapaan” Resi Manik Manumayasa,
Puntadewa (Darmakusuma), Nakula Sadewa, dan Bathara Ismaya (Semar).
Tokoh-tokoh tersebut merupakan simbul personifikasi manusia
titisan dewa yang berwatak selalu menjalankan “laku darma” pengabdian kepada
Hyang Maha Agung. Atau mengajarkan “laku-urip” yang religius.
Sang Hyang Wenang merupakan salah satu nama dari sesembahan
(realitas tertinggi) Jawa.
Bathara Ismaya merupakan derivate (tajalli, emanasi) awal
dari Sang Hyang Wenang, menggambarkan cangkok atau emban (plasma kalau
diibaratkan pada sel hidup).
Eyang Manik Manuyasa kiranya merupakan nama lain dari
Bathara Manikmaya, yang juga merupakan derivate (tajalli,emanasi) awal Sang
Hyang Wenang, menggambarkan kembang, permata atau wiji/benih (inti kalau
diibaratkan sel hidup). Sel hidup selalu terdiri dari Inti dan Plasma yang
tidak bisa dipisahkan.
Demikian pula kiranya konsep Jawa tentang “Urip” selalu
terdiri dari “Manikmaya” dan “Ismaya” yang juga tidak bisa dipisahkan.
Puntadewa dan Nakula-Sadewa adalah tiga satria Pandawa yang
tidak pernah berperang.
1. Puntadewa simbul kesabaran,
2. Nakula kecerdasan, dan
3. Sadewa kebijaksanaan.
Bahkan kemudian dalam mitologi Jawa, Sadewa adalah satria
yang mampu meruwat Bethari Durga yang serba jahat menjadi Bethari Uma yang
welas-asih. yang sekarang berdiam di Alas krendo wahana
Petilasan ketiga satria Pandawa tersebut ditempatkan di
gunung “Sangalikur” dibawah Sang Hyang Wenang,
Bethara Manikmaya dan Bethara Ismaya, melambangkan bahwa
kesempurnaan manusia di hadapan Tuhan (sesembahan) adalah kesadaran akan
“sejatining urip”, yaitu yang merupakan gabungan Puntadewa (sabar),Nakula
(cerdik-pandai) dan Sadewa (arif bijaksana).
Puncak kedua di “gunung Abiyasa” merupakan “petilasan
pertapaan” Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara. Keduanya merupakan maharesi yang
tertinggi “kawruhnya”.
Tempatnya juga sepi kering tidak ada apa-apa. Bahkan jalan
menuju tempat itu hanya ada satu. Untuk naik dan turun melalui jalan yang sama.
Sepertinya menyiratkan bahwa jalan menuju puncak ketinggian
“harkat spirituil manusia” yang bisa dicapai adalah sebagai Resi Abiyasa dan
Resi Palasara yang hidup sunyi sepi namun tidak meninggalkan keramaian dunia.
Palasara dan Abiyasa konon merupakan leluhur Pandawa.
Meskipun hidup sebagai resi (pendeta), namun keduanya terlibat langsung dengan
realitas hiup manusia di dunia.
Diantaranya terlibat perkara seks dalam arti untuk
regenerasi (berketurunan) manusia. Menurut ceritanya pula, keduanya tidak
menempati “etika agama” dalam hal bercinta-asmara. Dan lebih kepada naluri
alamiah yang terekayasa oleh kebutuhan.
Palasara bercinta-asmara dengan Dewi Lara Amis (Durgandini)
di dalam perahu oleh akibat dorongan nafsu birahi keduanya, hingga lahir
Abiyasa (baik) dan saudara-saudaranya (jahat).
Abiyasa pun melakukan cinta-asmara dengan janda adiknya oleh
kebutuhan Hastinapura akan generasi penerus. Maka petilasan Palasara dan
Abiyasa tidak dalam satu gunung dengan Sang Hyang Wenang mengandung maksud,
bahwa sesungguhnya untuk mencapai “kesempurnaan harkat kemanusiaan” bisa
dicapai juga dengan memenuhi darma sebagai manusia secara alamiah, meskipun
darma tersebut mungkin kurang sejalan dengan “norma kesusilaan” dan “etika
keagamaan”.
Petilasan Eyang Sakri, Eyang Sakutrem berada di kaki gunung
yang rendah. Keduanya juga maharesi leluhur Pandawa. Petilasan pertapaannya
berada dekat dengan mata air (sendang), artinya lebih dekat berderajat manusia
katimbang dewa.
Petilasan Bathara Narada dan Bathara Guru di Joggring Salaka
(kahyangan para dewa) yang juga berada di kaki gunung seolah menyiratkan
pandangan Jawa, bahwa sesungguhnya dewa-dewa juga titah dari Yang Maha Kuasa
sama dengan manusia. Dewa juga mempunyai kewajiban ikut terlibat dalam mengatur
keharmonisan semesta (memayu hayuning bawana). Artinya, di Jawa, Bathara Guru
dan Bathara Narada bukan wajib disembah tetapi disetarakan dengan manusia.
Begitulah Penafsiran tentang hakekat adanya petilasan
pertapaan para Eyang (Hyang) di Rahtawu.
Untuk petilasan Eyang Lokajaya dan Makam Eyang Mada, adalah
suatu “punden” baru yang tidak ada hubungannya dengan “petilasan pertapaan”
paya Hyang dan Resi.
Adapun bagaimana sejarah Rahtawu masih merupakan misteri.
Siapa pula yang menetapkan daerah itu Menjadi petilasan pertapaan, juga masih
sulit untuk didapatkan keterangan. Yang jelas sudah sejak jaman kuno Rahtawu
dianggap sebagai tempat petilasan pertapaan “para suci”. Mungkin dulunya mirip
“Sungai Gangga” di India.
Atau semua itu adalah rekayasa para leluhur Jawa untuk lebih
meyakinkan bahwa yang menciptakan Mahabharata, Resi Wiyasa, adalah Abiyasa yang
tinggalnya di Rahtawu, Jepara.
Kenyataan yang ada sekarang ini, Rahtawu menjadi tempat
untuk kepentingan “ngalap berkah” yang bermacam-macam.
Caranya juga bermacam-macam pula. Nuansa spirituil religius
Jawa sudah berbaur dengan laku-budaya adat yang oleh berbagai pihak dianggap
klenik, tahayul dan syirik.
Perbukitan Muria memerlukan kajian mendalam. Ilmiah maupun
spirituil untuk menguak misterinya. Di tempat itu juga ada makam Sunan Muria
(salah satu Wali Sanga) yang dikeramatkan pula oleh banyak orang Jawa yang
muslim.
Maka dengan demikian di Muria ada dua tempat wisata
spirituil, Makam Sunan Muria (Islam) dan Petilasan Pertapaan Rahtawu (Kejawen).
Menurut yang “muslim saleh”, menyatakan bahwa Rahtawu tempat
berkumpulnya jin dan syaiton. Sebaliknya, kalangan “kejawen” menyatakan kalau
makam Eyang Mada dan makam keramat lainnya (sesakti apapun yang dimakamkan)
cuma kuburan manusia biasa.
Begitulah kenyataan pergulatan antar peradaban di Jawa baru
mencapai tahap saling menganggap klenik, tahayul dan syirik bagi pihak yang
tidak sealiran.
Jamaah Manganthi sekitar 20 orang berjalan beriringan menuju
puncak songolikur untuk “terjun langsung” di alam bebas dan bukan hanya
melakukan zikir di rumah saja, karena kita akan merasakan perbedaan batin dan
merasakan aura alam pegunungan pada tengah malam.
Setelah sampai di puncak Songolikur , Mbah Doel
beserta jamaah Manganthi melaksanakan sholat hajat dan berzikir di areal
tersebut. Tiba-tiba datang sinar biru meluncur dari arah atas ke bawah. Dengan
karomah wali yang dianugerahkan Mbah Doel sinar itu ditangkap . Ternyata
setelah ditangkap berubah wujud menjadi pusaka. Mbah Doel menganggap itu
oleh-oleh dari Puncak Songolikur dan tanda perkenalan dengan penghuni ghaib di
sana. Oleh karena itu jangan sampai kita mengimani pusaka dan sejenisnya namun
berimanlah pada Allah swt yang menciptakan alam dunia seisinya.
Populitas
Gunung Muria terdapat berbagai habitat flora, diantaranya:
Aren (Arenga pinata)
Bendo (Artocarpus elasticus)
Cengkeh (Eugenia aromatica)
Dadap (Erythrina sp)
Eukaliptus (Eucalyptus alba)
Gintungan (Bischoffia javanica)
Ingas (Gluta renghas)
Jati (Tektona grandis)
Kaliandra (Callyandra calotirsus)
Lamtorogung (Leucaena glauca)
Manggis (Garcinia mangostana)
Nangka (Artocarpus heterophyllus)
Pinus (Pinus merkusii)
Randu (Ceiba pentandra)
Salam (Eugenia polyantha)
Tejo (Cinnamomum sp)
Wuni (Antidesma bunius)
Berbagai macam anggrek
Pohon Pepaya
Pohon Jambu Monyet
Gunung Muria terdapat berbagai habitat fauna, diantaranya:
Kijang
Macan Tutul
Monyet Ekor Panjang
Wisata Religi
Makam Syeh Sadzli
Makam Sunan Muria
Makam Sunan Muria terletak di Desa Colo Kecamatan Dawe
Kabupaten Kudus. Berlokasikan di atas sebuah bukit. Sehingga para peziarah yang
hendak berziarah harus menapaki anak tangga sejauh + 500 meter. Di kiri kanan
anak tangga berderet kios para penjual makanan dan souvenir.
Bagi yang tidak kuat mendaki anak tangga bisa memilih jasa
tukang ojek. Dengan jasa ini selain bisa menghemat energi, selama perjalanan
kita akan disuguhi pemandangan yang menarik.
Wisata Alam
Air Terjun Songgo Langit, di Desa Bucu
Air Terjun Jurang Nganten, di DesaTanjung
Air Terjun Suroloyo, di Desa Bungu
Air Terjun Banyu Anjlok, di DesaSomosari
Air Terjun Undak Manuk, di Desa Blingoh
Air Terjun Nglamer, di Desa Dudakawu
Air Terjun Kedung Ombo, di Papasan
Air Terjun Nggembong, di Srikandang
Air Terjun Nglumprit, di Desa Dudakawu
Air Terjun Grinjingan Dowo, di DesaDudakawu
Air Terjun Monthel, di Desa Colo
Air Terjun Gonggomino, di Desa Rahtawu
Air Tiga Rasa Rejenu, di Desa Japan
Air Terjun Widodaren, di DesaLumbungmas
Air Terjun Santi, di Desa Gunungsari
Air Terjun Grenjengan Sewu, di DesaJrahi
Air Terjun Tadah Hujan, di Desa Sukolilo
Wisata Sejarah
Museum Gong Perdamaian Dunia, di Desa Plajan
Situs Pusat Bumi, di Desa Plajan
Candi Angin, di Desa Tempur
Candi Bubrah, di Desa Tempur
Gunung Muria terdapat beberapa bumi perkemahan, di
antaranya:
Bumi Perkemahan Sreni Indah
Terletak di Desa Bate Gede, KecamatanNalumsari, Kabupaten
Jepara. Bumi Perkemahan ini pernah digunakan untuk menggelar Jambore Nasional
Gerakan Pramuka.
Bumi Perkemahan Pakis Adhi
Terletak di Suwawal Timur, KecamatanPakis Aji, Kabupaten
Jepara. Bumi Perkemahan ini pernah digunakan untuk menggelar Jambore Daerah
Gerakan Pramuka Kwarda Jawa Tengah. Bumi Perkemahan ini juga pernah digunakan
untuk menggelar Jambore Nasional OI yang di hadiri Iwan Fals.
Bumi Perkemahan Tempur
Terletak di Desa Tempur, KecamatanKeling, Kabupaten Jepara.
Bumi Perkemahan ini mempunyai keunikan karena tempatnya di salah satu puncak
Gunung Muria tepatnya di Puncak Tempur, Bumi Perkemahan ini pun dekat dengan
tempat-tempat peninggalan bersejarah seperti Candi ANgin, Candi Bubrah, Kolam
Nawangwulan, dll.
Bumi Perkemahan Abiyoso
Terletak di kaki Gunung Abiyoso di DesaMenawan Kecamatan
Gebog Kabupaten Kudus. Bumi Perkemahan ini pernah digunakan untuk menggelar
Jambore Daerah Gerakan Pramuka Kwarda Jawa Tengah pada tahun 1996.
Bumi Perkemahan Kajar
Terletak di Desa Kajar, Kecamatan DaweKabupaten Kudus
sekitar 2 km arah selatan Makam Sunan Muria.
Bumi Perkemahan Jolong
Terletak di Desa Jolong, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati.
Dari sini merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Argo Jembangan.
Perencanaan
Kereta Gantung
Membuat Kereta gantung dari bawah sampai ke masjid Makam
Sunan Muria, Kereta Gantung tersebut diperuntukkan bagi orang lemah atau sakit,
bagi untuk orang yang sehat tapi ingin menaiki maka dikenakan tarif 2 kali
lipat tarif untuk orang sakit/cacat. Agar tidak merugikan bagi Tukang Ojek dan
Penjual Aneka Sovenir di Tangga menuju Masjid Makam Sunan Muria.
Visit Muria Mount
Agar warga luar kota mengetahui keindahan Gunung Muria, dari
semua tempat wisata yang terletak di Kaki Gunung Muria hingga puncak Gunung
Muria yang terdapat di Jepara Kudus hingga Pati





1 komentar:
sangat sangat keren
Posting Komentar